Pengalaman Bekerja Di Restoran Maid Cafe


Bagaimana Rasanya Bekerja di Restoran Maid Cafe.

 

Mungkin jika kamu pernah terbesit untuk bekerja di Jepang khususnya wanita dan memilih untuk menjadi pelayan di restoran Maid Cafe theme, sepertinya perlu disimak kisah dari wanita negara Chile yang bekerja sebagai pelayan restoran Maid Cafe di Akihabara, Tokyo, Jepang. Silahkan disimak kisahnya dibawah ini.

Kala itu sambutan hangat dari pelayan kepada setiap pelanggan yang masuk mewarnai perjalanan kami, Okaerinasaimase goshujin-sama!” yang artinya, “Selamat Datang, Tuan-ku!”. Minggu pagi sapaan itu ternyata diberikan oleh salah satu pelajar asing warga negara Chile bernama Jimenez Margarita yang berumur 21 tahun, sebut saja dia Mayu. Dengan dandanan yang ala pelayan seksi di anime, wajah cantik dari Mayu juga sangat pas sekali dan membuat para pelanggan khususnya cowok-cowok merasa menjadi lebih betah berlama-lama di restoran. Dengan cekatan Mayu menanyakan pesanan apa yang akan dipesan, tentu saja dengan gaya “Moe” ala maid. (Moe adalah slang bahasa Jepang yang digunakan para Otaku atau anime/manga fanatik sebagai bentuk ekspresi kecintaan/kesukaan yang dalam).

Tidak butuh waktu lama, Mayu membawakan pesanan kami, menaruh gelas-gelas dan piring dimeja setelah itu memberikan gesture tubuh dan gerakan jemari membentuk lambang hati/love sembari mengucap “Moe moe kyun”. Mayu ternyata hanyalah peserta dari One-day Tour Akibaland yang berbasis di Tokyo, jadi Mayu telah memenangkan suatu kompetisi audisi Anime Expo di negaranya dan mendapatkan hadiah Tur Pengalaman Satu hari sebagai pelayan Maid Cafe di Akihabara.

Jimenez telah mengalahkan lebih dari 40 kontestan pada saat itu dan memenang hadiah perjalanan ke Jepang dan tambahannya adalah bekerja selama satu hari penuh sebagai pelayan Maid cafe di Akihabara. Selain itu juga Jimenez mengunjungi berbagai tempat-tempat wisata lainnya di daerah Tokyo. Lalu, mengapa Jimenez sangat terobsesi dengan menjadi pelayan maid cafe? Adalah pertama kali menonton salah satu anime di TV pada saat beranjak remaja dan ia mulai membayangkan hal tersebut. “Maid Cafe adalah tempat dimana kita merasa rileks dan melupakan semua masalah.” ujar Jimenez. “Jika kita merasa lapar kita bisa pergi ke restoran makan, akan tetapi tidak akan sama jika kita pergi ke Maid Cafe… interaksi yang kita dapatkan dengan pelayan Maid Cafe adalah sesuatu yang dicari orang dan itu yang membuatnya unik.

 

Setelah mempelajari tentang Maid Cafe pada saat sebelum pergi ke Jepang, Jimenez mengatakan bahwa ia telah mengetahui semuanya. Tapi sepertinya ia salah. “Semuanya harus teratur dan mempunyai aturan sendiri-sendiri. Langkah-langkah kecil dan sangat details, saya menyukai semuanya dan itu pengalaman baru bagi saya” ujarnya. Sebagai contoh setiap pelanggan masuk, pelayan membunyikan bel untuk memberikan sinyal kepada pelayan lain bahwa ada pelanggan baru yang tiba, lalu mereka menyapa pelanggan dengan ekspresi dan nada ceria “Selamat datang, tuanku”. Dan jika pelanggan itu adalah wanita “Okaerinasaimase Ojo-sama” atau “Selamat datang, tuan putri-ku”. Selain itu Maid Cafe memberikan peraturan ketat terhadap pelayan mereka, yang paling utama adalah dilarang mempunyai hubungan dekat khusus terhadap pelanggan, kasarnya tidak boleh pacaran atau jangan baperan yah hehehe.

Terlepas dari semua itu, Jimenez a.k.a Mayu sepertinya sangat menyukai pengalaman menjadi pelayan Maid Cafe walaupun hanya satu hari saja, “…pada saat aku kembali ke Chile, aku akan menceritakan semuanya ini kepada semua temanku, ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan” ujar Jimenez menutup obrolan kami. Semangat yah Mayu.. ganbatte ne!. Nah, kalau kamu sendiri gimana? Berminat menjadi pelayan Maid Cafe di Jepang? Bayarannya juga lumayan lho. Semoga informasi ini bermanfaat buat kamu yah.